MENCINTAIMU
Mungkin aku bukanlah cinta yang paling sempurna
hanya sebatas hati yang ingin mencurah rasa padamu
karena mencintaimu adalah keindahan dilangit hatimu
dan dicintaimu adalah kesempurnaan kebahagiaan hatiku
Aku mencintaimu
seperti bunga mencintai keharumannya
seperti hujan mencintai tetasan airnya
seperti bulan mencintai langit malamnya
seperti matahari yang mencintai cahayanya
jantung ini takan pernah berdetak selamanya
tapi jika Tuhan mengizinkan
selama jantungku berdetak
ijinkan mencintaimu dalam ketulusan
Aku mencintaimu
bukan karena aku ingin memiliki apa yang ada didirimu
hanya ingin melihatmu tersenyum
melukis rasa bahagia disetiap titian hidupmu
Aku mencintaimu
bukan karena aku kagum pada dirimu
hanya ingin membuatmu sempurna
meski aku tak bernah bisa sempurna
aldi setiana
Senin, 09 Januari 2017
ASAL USUL DESA PAGUNDAN
ASAL USULNYA DESA PAGUNDAN :)

Riwayat Singkat Asal mula nama Desa Pagundan diambil dari beberapa sejarah terutama dari sejarah perjuangan Pangeran Aria Sutajaya yang sekaligus menjadi pokok ceritera nama Desa Pagundan. Orang tua sejak dahulu pandai membuat karangan untuk memberi nama terhadap suatu tempat, misalnya hal ini terbukti orang tua di Desa Pagundan guguritan Pamuradan seperti tersebut dibawah ini : 1. Pamuradan Jatipiring 2. Terusanase Pagundan 3. Laju Ka Kuningan Wae 4. Cisantana Panulisan 5. Cihideng Jeng Wanayasa 6. Aya Heur Pinggir Sumur 7. Kubang Tengah Pasawahan Guguritan diatas menurut Titi Magsa dari Elang Raden Maskud. Walaupun guguritan-guguritan diatas baik pupuk kinanti maupun pupuh pamuradang dibuatnya oleh para pengarang pada jaman pemerintahan Hindia Belanda dan ceritaranya dibelokan. Tetapi isi guguritan itu adalah sindiran bagi penjajah Pemerintahan Belanda. Tahun 1800 s/d 1942 disamping itu maksud untuk menjadi peringatan putra-putri pejuang Indonesia adapun kejadiannya pada zaman VOC Belanda dahulu. Adapun guguritan pamuradan pelaksanaannya seperti tersebut dibawah ini membawa hikmah yang tidak sedikit artinya. Pangeran Aria Sutajaya berserta rombongan dari kampungan pamuradan perangkat menuju balai permusyawaratan (paguneman) di Gunung Simpe. Jalan lewat Jatipiring baru saja sampai di Pertelon, putranya Masjaya merasa lelah kecape anilalau haturan keayahnya. 1. Rama ingsun emonggiri 2. Nyawis yen bali malu enteni ningkene 3. Gawe sanggar sasukamu 4. Sanggarening Tuk Angsane 5. Manggarayi mongmong enku yang anaku Maksudnya demikian : Putra Pangeran Sutajaya ialah Pangeran Masjaya merasa lelah tidak mau ikut ke gunung. Kata ayahnya ialah pangeran Aria Sutajaya menjawab : Yah sudah kalau tidak mau tidak tumbuh saja disini buatlah pesanggrahan (kemah) sesukamu. Lebih baik buat perkemahannya disitu didekat Tuk Angsane. Selanjutnya, Pangeran Aria Sutajaya memerintahkan kepada adiknya Senopati : Manggarayi, maksudnya silahkan adikku ikuti dan jaga anakku yah anakmu. Setelah itu, Pangeran Aria Sutajaya dikawal oleh beberapa orang penjurit melanjutkan perjalanan menuju ke Paguneman Gunung Simpe. Adapun sebagian pasukan menunggu di Pertelon menjaga Pangeran Masjaya membuat perkemahan didekat Tuk Angsana. Angsana yang selanjutnya disekitar Tuk Angsana menjadi kampung disebut kampung dana suka yang artinya ambon suka. Kemudian perintah Pangeran Aria Sutajaya kepada adiknya terdengar oleh seluruh masyarakat pertelon, diantaranya ada kata-kata yang terdengarnya agak ganjil ialah perkataan Manggarayi sehingga menjadi buah bibir masyarakat pada waktu itu, yang selanjutnya pertelon itu disebut pertelon manggarayi, lama kelamaan menjadi kampung disebut kampung Manggari.
Riwayat Singkat Asal mula nama Desa Pagundan diambil dari beberapa sejarah terutama dari sejarah perjuangan Pangeran Aria Sutajaya yang sekaligus menjadi pokok ceritera nama Desa Pagundan. Orang tua sejak dahulu pandai membuat karangan untuk memberi nama terhadap suatu tempat, misalnya hal ini terbukti orang tua di Desa Pagundan guguritan Pamuradan seperti tersebut dibawah ini : 1. Pamuradan Jatipiring 2. Terusanase Pagundan 3. Laju Ka Kuningan Wae 4. Cisantana Panulisan 5. Cihideng Jeng Wanayasa 6. Aya Heur Pinggir Sumur 7. Kubang Tengah Pasawahan Guguritan diatas menurut Titi Magsa dari Elang Raden Maskud. Walaupun guguritan-guguritan diatas baik pupuk kinanti maupun pupuh pamuradang dibuatnya oleh para pengarang pada jaman pemerintahan Hindia Belanda dan ceritaranya dibelokan. Tetapi isi guguritan itu adalah sindiran bagi penjajah Pemerintahan Belanda. Tahun 1800 s/d 1942 disamping itu maksud untuk menjadi peringatan putra-putri pejuang Indonesia adapun kejadiannya pada zaman VOC Belanda dahulu. Adapun guguritan pamuradan pelaksanaannya seperti tersebut dibawah ini membawa hikmah yang tidak sedikit artinya. Pangeran Aria Sutajaya berserta rombongan dari kampungan pamuradan perangkat menuju balai permusyawaratan (paguneman) di Gunung Simpe. Jalan lewat Jatipiring baru saja sampai di Pertelon, putranya Masjaya merasa lelah kecape anilalau haturan keayahnya. 1. Rama ingsun emonggiri 2. Nyawis yen bali malu enteni ningkene 3. Gawe sanggar sasukamu 4. Sanggarening Tuk Angsane 5. Manggarayi mongmong enku yang anaku Maksudnya demikian : Putra Pangeran Sutajaya ialah Pangeran Masjaya merasa lelah tidak mau ikut ke gunung. Kata ayahnya ialah pangeran Aria Sutajaya menjawab : Yah sudah kalau tidak mau tidak tumbuh saja disini buatlah pesanggrahan (kemah) sesukamu. Lebih baik buat perkemahannya disitu didekat Tuk Angsane. Selanjutnya, Pangeran Aria Sutajaya memerintahkan kepada adiknya Senopati : Manggarayi, maksudnya silahkan adikku ikuti dan jaga anakku yah anakmu. Setelah itu, Pangeran Aria Sutajaya dikawal oleh beberapa orang penjurit melanjutkan perjalanan menuju ke Paguneman Gunung Simpe. Adapun sebagian pasukan menunggu di Pertelon menjaga Pangeran Masjaya membuat perkemahan didekat Tuk Angsana. Angsana yang selanjutnya disekitar Tuk Angsana menjadi kampung disebut kampung dana suka yang artinya ambon suka. Kemudian perintah Pangeran Aria Sutajaya kepada adiknya terdengar oleh seluruh masyarakat pertelon, diantaranya ada kata-kata yang terdengarnya agak ganjil ialah perkataan Manggarayi sehingga menjadi buah bibir masyarakat pada waktu itu, yang selanjutnya pertelon itu disebut pertelon manggarayi, lama kelamaan menjadi kampung disebut kampung Manggari.
Langganan:
Postingan (Atom)